{"id":234,"date":"2023-06-19T07:56:35","date_gmt":"2023-06-19T07:56:35","guid":{"rendered":"https:\/\/republikinstitute.com\/?p=234"},"modified":"2023-06-19T07:58:12","modified_gmt":"2023-06-19T07:58:12","slug":"kekuasaan-yang-maha-benar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/republikinstitute.com\/index.php\/2023\/06\/19\/kekuasaan-yang-maha-benar\/","title":{"rendered":"Kekuasaan &#8220;Yang Maha&#8221; Benar"},"content":{"rendered":"<p>Dalam keadaan yang tak dikehendaki, kadang kekuasaan ingin menjadi mitos. Di banyak tempat, untuk mengukuhkan mitologi itu, kekuasaan membangun patung dan merumuskan \u201ckurikulum\u201d, dan dalam berbagai kesempatan, ia membeli sebagian tokoh agama untuk menopang legitimasi kekuasaannya.<\/p>\n<p>Dalam konteks ini, kekuasaan butuh mitologi pasca ia berkuasa. Untuk membangun mitologi, kekuasaan membutuhkan rumus-rumus kebenaran, dan kebenaran yang paling penting adalah bagaimana ia bisa menjadi satu-satunya sumber bagi seluruh pikiran dan tindakan dalam lingkungan yang ia kuasai. Maka ia tak dapat dipersalahkan, yang dalam kalimat Louis XIV saat ia ucapkan dihadapan parlemen Paris pada 13 April 1655, <em>L&#8217;\u00c9tat, c&#8217;est moi,<\/em> Negara adalah aku. \u201cNegara\u201d yang publik, menyatu bersama \u201caku\u201d yang personal. Maka, \u201cNegara menjadi aku, dan aku menjadi Negara\u201d. Ia berkuasa selama 72 tahun, dan sebelum meninggal, kata Louis de Rouvroy yang membela Louis, ia mengucapkan:<em> &#8220;Je m&#8217;en vais, mais l&#8217;\u00c9tat demeurera toujours&#8221;<\/em> (saya akan pergi, tetapi negara akan tetap ada).<\/p>\n<p>Mistisisme kekuasaan sebagai yang \u201cmaha baik\u201d, telah diletakkan secara fondasional oleh Agustinus. Sang pendeta mengunci rapat, bahwa; &#8220;<em>Citizens have the duty to obey their political leaders regardless of whether the leader is wicked or righteous. There is no right of civil disobedience\u201d.<\/em> Betapa sakralitas, mistisisme dan tak pernah salah itu merupakan milik tunggal sang penguasa.<\/p>\n<p>Tetapi historical dan pendasaran argumen Agustinus adalah doktrin teologis, tentang bersatunya \u201cdunia sini dan dunia sana\u201d, yang diperintah oleh dua mahluk titisan Tuhan, Raja dan Pendeta. Keduanya adalah satu yang tak terpisahkan. Raja mengurus \u201cdunia sini\u201d, sedangkan pendeta mengurus \u201cdunia sana\u201d. Maka, apa yang dilakukan oleh Raja adalah melaksanakan kehendak Tuhan \u201cdisini\u201d, sedangkan sang pendeta mengatur kehendak Tuhan \u201cdisana\u201d.<\/p>\n<p>Titik temu yang kompatible antara kehendak sang dei (tuhan) dan ambisi dunia yang tercetak dalam dada sang raja, menyebabkan \u201cucapan\u201d dan dalil-dalil politik yang imanen dari sang raja, menjadi transenden ketika kehendak Tuhan mewujud bersamanya. \u201cAku mengucapkan apa yang tuhan kehendaki, dan aku adalah sang penerjemah keinginan Tuhan yang transenden\u201d.<\/p>\n<p>Saat ia merasa menjadi bagian dari Tuhan, maka dalam mitologi jawa, sang penguasa menyebut dirinya; \u201cIngsun\u201d. \u201cIngsun\u201d adalah pengganti kata \u201caku\u201d yang semula \u201cprofan\u201d menjadi transenden. \u201cIngsun\u201d adalah hakikat Tuhan dalam realitas, sebab itu, ia punya \u201cmartabat\u201d. Dengan \u201cmartabat\u201d itu, sang \u201cingsun\u201d adalah \u201cmaha manusia\u201d, yakni manusia yang bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Tuhan. Pada konteks ini, ia menjadi \u201cmaha benar\u201d, sebab perbuatan manusia adalah juga perbuatan Tuhan.<\/p>\n<p>Belakangan ini, sebagian penguasa, hendak meletakkan fondasi mitos tentang dirinya. Keinginan untuk menjadi \u201cmaha manusia\u201d cukup besar, meskipun terhalang oleh sistem. Untuk memperpanjang usia dan rentang kendali kuasa, mereka rata-rata menyiapkan pengganti yang \u201cpatuh, taat, dan setia\u201d untuk melanjutkan rencana yang ia letakkan. Meskipun, rencana dan fondasi yang diletakkan penuh intrik, skenario dan ranjau kejahatan.<\/p>\n<p>Bagi \u201cingsun\u201d ia selalu benar. Bagi Louis, \u201cNegara adalah Dia\u201d. Sementara Agustinus menghendkaki \u201cthe duty to obey\u201d bagi warga Negara. Jika dirangkum, bukankah ini semua sebenarnya adalah mengokohkan dalil, bahwa penguasa adalah \u201cmaha manusia\u201d yang tak pernah salah?. Dalil ini sangat terkenal dengan istilah; \u201cThe king can do no wrong\u201d. Raja tak dapat dipersalahkan?. Jika tak dapat dipersalahkan, tidak kah ia \u201cmaha benar\u201d?. Bukankah dalam teologi, yang maha benar itu hanya Tuhan?.<\/p>\n<p>*) Penulis adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam keadaan yang tak dikehendaki, kadang kekuasaan ingin menjadi mitos. Di banyak tempat, untuk mengukuhkan mitologi itu, kekuasaan membangun patung dan merumuskan \u201ckurikulum\u201d, dan dalam berbagai kesempatan, ia membeli sebagian tokoh agama untuk menopang legitimasi kekuasaannya. Dalam konteks ini, kekuasaan butuh mitologi pasca ia berkuasa. Untuk membangun mitologi, kekuasaan membutuhkan rumus-rumus kebenaran, dan kebenaran yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":235,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-234","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/republikinstitute.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/234","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/republikinstitute.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/republikinstitute.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/republikinstitute.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/republikinstitute.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=234"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/republikinstitute.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/234\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":236,"href":"https:\/\/republikinstitute.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/234\/revisions\/236"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/republikinstitute.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/235"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/republikinstitute.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=234"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/republikinstitute.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=234"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/republikinstitute.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=234"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}